Novi, pimpinan Rumah Produksi Korekapi yang mengerjakan produksi MRA menjelaskan, MRA merupakan program semi-dokumenter yang bercerita tentang profil dan aktivitas para Da’i Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di berbagai pelosok Indonesia. Antara lain da’i di Kepulauan Mentawai (Sumbar), Perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, Pulau Kera di Nusa Tenggara Timur, daerah transmigrasi di Tulang Bawang, Mesuji (Lampung), Gunung Kidul DIY, dan lain-lain.
‘’Sebagian besar adegan dalam MRA adalah adegan alami (nature), sebagaimana biasa dilakukan masing-masing para Da’i dalam kesehariannya,’’ ungkap Novi kepada wartawan saat premiere MRA di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (4/7/2013).
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Syuhada Bahri, menjelaskan, Dewan Da’wah yang didirikan founding fathers Republik Indonesia pada tahun 1967, hingga saat ini telah mengirimkan dan menempatkan sekitar 1000 Da’i di berbagai pelosok negeri.
‘’Para da’i tersebut sebelumnya dididik melalui Program Mulazamah (kader ulama-intelektual), Program S-1 di Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah (STID) Mohammad Natsir, dan Diploma-2 (Program Da’i Trampil non-gelar),’’ terang Syuhada.
Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Da'wah, H Ade Salamun, menambahkan, untuk menunjang tugas para da’i, LAZIS Dewan Dakwah mendukung dengan Program Qurba, Wakaf Qur’an, Ifthor Ramadhan, Kado untuk Yatim dan Dhuafa, dan Bekal Da’i serta Program Ekonomi Produktif. Selain itu, imbuh Ade, juga Program Da’i Datang Desa Terang, Da’i Datang Perbatasan Tenang, dan Da’i Datang Desa Rindang. (Nb/Ep)

Posting Komentar