Masyarakat
Indonesia saat ini sedang di terror dengan kampanye dar para calon Presiden dan
Wakilnya, banyak diantara warga yang belum atau bahkan tidak mengetahui
seluk-beluk dari calon pemimpin Negara yang akan mereka pilih. Masyarakat hanya
tahu dan hanya mendukung jika partai yang mereka “jagokan” mengusung Capres dan
Cawapres itu tanpa mereka mengetahui mengenai pengalaman dan integritas dari
pemimpin Negara yang akan mereka pilih.
Dan,
bagi para calon pun tetap menggencarkan kampanye mereka untuk mendapatkan suara
rakyat, dengan apapun itu caranya asalkan rakyat menyalurkan suaranya untuk
dia. Contohnya, seperti yang saya lihat di social media akhir-akir ini. Banyak dari
pengikut mereka yang menjadikan social media sebagai ajang kampanye hitam.
Disana banyak sekali akun-akun palsu yang saling menjelekkan Antara satu sama
lain dari kedua belah pihak calon presiden. Padahal, darisana saya semakin
bertanya-tanya, mengapa harus dengan cara demikian? Apa untung yang mereka
dapatkan dari menjelek-jelekkan orang lain yang seharusnya kejelakkan itu
ditutupi karena termasuk Aib-nya. Mungkin, boleh jika berkampanye di social media,
tetapi coba dengan cara yang bijaksana dan tanpa ada unsur SARA, karena itu
akan menyebabkan asumsi dari masyarakat yang melihatnya adalah bagaikan perang
tombak antar kubu dalam satu naungan Negara. Apalagi jika ada dari belah pihak
calon presiden yang berkampanye dengan cara memberikan uang “suap” kepada
masyarakat Indonesia agar menyalurkan hak suaranya untuk dia. Itu sangat keluar
dari norma dan aturan di Negara kita Indonesia ini.
Jadi,
jika calon presidennya saja berkampanye dengan cara yang salah, bagaimana
dengan bawahannya termasuk para mentrinya? Apalagi rakyatnya yang menganut system
kepemerintahan mereka? Maka dari itu, alangkah baiknya jika kampanye dilakukan
secara sportif dan bijaksana.
Namun,
disamping itu, masyarakat juga harus menyalurkan hak suaranya. Karena satu
suara dari mereka itu dapat menentukan nasib dari bangsa Indonesia kedepannya. Jangan
hanya mampu mengoceh mengenai kebobrokan pemerintahan Indonesia tetapi tidak
menyalurkan haknya dalam memilih. Itu sama saja dengan kicauan burung di malam
hari, terasa sunyi mencekam.
Oleh : Hanafi Indra Pribadi
Kelas : 1KA34
FIKTI - Sistem Informasi - Universitas Gunadarma

Posting Komentar