Keputusanku Menentukan Siapa Aku Besok?
Selama masih menuntut ilmu dibangku SMP dan SMA saya
selalu aktif dalam naungan organisasi di intrernal sekolah baik OSIS, ROHIS
ataupun lainnya. Banyak pengalaman yang saya dapatkan mengenai kehidupan dalam
berorganisasi yang membutuhkan kerja sama dan solidaritas tinggi, termasuk
ketika saya dipilih menjadi Ketua OSIS ketika semasa duduk dibangku SMP. Ya
Tuhan betapa berat amanah yang harus saya emban diumur se-belia itu. Keputusan
saya sangat ditunggu ketika akan melakukan suatu kegiatan sekolah yang juga
dibimbing oleh guru pembimbing organisasi kami, termasuk keputusan saya ketika
sekolah akan mengadakan class meeting
yang acaranya disusun matang oleh organisasi yang saya pimpin kala itu yakni
Organisasi Intra Sekolah (OSIS).
Mengambil keputusan yang terbaik adalah hal yang wajib
saya lakukan untuk menunjang kemajuan organisasi kami. Hal itulah yang saya
lakukan untuk melaksanakan kegiatan sekolah pada saat itu yaitu class meeting.
Setelah berjalannya kegiatan hingga setibanya ditengah-tengah kegiatan, terdapat
kendala dan kecelakaan yang mana belum terprediksikan oleh saya dan para
pengurus/ panitia pelaksana kegiatan tersebut. Disitulah saya harus kembali
mengambil keputusan lagi untuk memberi yang terbaik kepada pelaksana kegiatan
tersebut. Namun ketika itu, keputusan saya sangat tidak diindahkan oleh
teman-teman pengurus lainnya, mungkin karena kala itu mereka sedang panik
karena terjadi kecelakaan hebat yang tidak kami duga sebelumnya.
Karena mengalami tekanan yang dahsyat, maka saya harus
mengambil keputusan satu sisi di posisi saya yang terpojok menyaksikan mereka
kalang kabut kepanikan mencari solusi. Untaian “Hei, gimana ini? Kita mau apa?
Kamu gimana sih? Ketua tanggung jawab dikit dong!” tak asing ditelinga saya,
hingga akhirnya dengan batin yang tertekan dan emosi tak tertahankan lagi bak
lahar yang akan mnyembur keluar dari mulut gunung berapi, saya berkata lantang
dihadapan mereka (para panitia kegiatan)
“Maaf saya berhenti dari ‘ini’!”. Sejurus kemudian tatapan mereka sama,
terpaku satu menuju saya yang tegak berdiri dihadapan mereka dengan hati rada
teriris miris.
Berat hati mengatakan hal yang tak selayaknya dikatakan
oleh seorang pemimpin yang telah di beri amanah. Namun semua telah terjadi.
Merasa bersalah? Pastilah saya merasa amat sangat bersalah dengan keputusan
yang telah saya ambil tersebut. Meninggalkan sebuah amanah adalah keputusan
terberat dan terbodoh yang pernah dilakukan oleh seorang pemimpin. Tapi apalah
daya saya yang masih berumur belia sudah diberi amanah berat seperti itu dan
mengalami tekanan dahsyat dari para pengurus lainnya. Dan sejak saat itulah
saya memutuskan untuk tidak akan mengikuti organisasi dalam bentuk apapun.
Namun, saat duduk dibangku SMA, sekolah saya mewajibkan
tiap siswanya untuk mengikuti ataupun berpartisipasi pada organisasi disekolah.
Memang, jasmani saya mengikuti apa yang telah dianjurkan sekolah untuk
siswanya, namun hati saya tetap belum bisa menerima akan apa yang saya lakukan.
Sangat berbeda sekali dengan apa yang saya alami ketika
berada dalam naungan organisasi besar di intra sekolah. Di organisasi yang saya
jalani di SMA begitu penuh dengan kekompakan dan betapa amat tinggi solidaritas
yang mereka junjung. Disana saya mulai mengalami perombakan untuk keputusan
yang telah saya ambil semasa SMP dulu dan beujung pada keberhasilan yang saya
raih.
Sejak saat itulah saya mengalami kemajuan diri untuk
mampu bangkit dari apa yang saya perbuat sendiri. Di perkuliahan saya banyak
mengikuti kegiatan aktif berorganisasi guna membangun diri saya yang telah saya
robohkan dimasa silam. Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan dalam kehidupan
berorganisasi, apalagi organisasi yang saya ikuti adalah Lembaga Dakwah Kampus
sebab saya sangat ingin menjadi muslim yang lebih dari sekedar “Hidup Mulia
atau Mati Syahid” termasuk dalam bekerja saama dengan orang banyak yang
mempunyai pemikiran yang berbeda-beda. Karena itulah hakikat dari organisasi,
menyatukan pikiran dari banyak kepala yang lahir dari rahim dan latarbelakang
yang berbeda-beda. Karena motto yang kami junjung dalam organisasi akhirat kami
“Bersama anda mengamalkan Islam”. Hayyatuna kulluha ‘ibadah.

Posting Komentar