• Home
  • Posts RSS
  • About Me
Blue Orange Green Pink Purple

Semua Berawal dari Ilmu !

Ilmu adalah sumber kehidupan manusia di bumi, mulai dari yang mendasar hingga yang tidak bisa direkam oleh panca indra sekalipun. Mulai dari makan, minum itu memerlukan ilmu, makanan dan minuman apa saja yang harus kita konsumsi guna menjaga stabilitas kesehatan tubuh kita. Dalam beribadah pun kita memerlukan ilmu agar ibadah kita tidak sia-sia karena mengetahui hakikat dari ibadah yang kita jalankan. Maka, mari kita budayakan mencari ilmu dan berbagi ilmu, sekalipun itu merupakan suatu hal ynag remeh.

5. KALIMAT EFEKTIF


A.      Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan maupun tanda bacanya sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Dengan kata lain, kalimat efektif mampu  menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pendengar atau pembacanya seperti apa yang dimaksudkan oleh penulis. Suatu kalimat dapat dikatakan sebagai kalimat efektif jika memiliki beberapa syarat sebagai berikut:
·         Mudah dipahami oleh pendengar atau pembacanya.
·         Tidak menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan maksud sang penulis.
·         Menyampaikan pemikiran penulis kepada pembaca atau pendengarnya dengan tepat.
·         Sistematis dan tidak bertele-tele.


B.      Kesalahan Kalimat
                Berikut akan kita lihat kalimat-kalimat yang tidak efektif dan kita akan mencoba membetulkan kesalahan pada kalimat-kalimat itu. Beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat antara lain:
1.       Pleonastis, Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain; banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan. Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan. Kita harus saling tolong-menolong.

2.       Kontaminasi, Contoh kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada kalimat berikut ini: Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi. Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran –nya dihilangkan. Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.

3.       Salah pemilihan kata, Contoh kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada kalimat berikut ini: Saya mengetahui kalau ia kecewa. Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.

4.       Salah nalar, Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:Bola gagal masuk gawang. Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.

5.       Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)
·         Bahasa asing, Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut: Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja. Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut: I live in Semarang where my mother works.




6.       Kata depan yang tidak perlu, Sering kali kita membuat kalimat yang mengandung kata depan yang tidak perlu seperti pada kalimat berikut: Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru. Agar menjadi efektif, sebaiknya kita menghilangkan kata depan di, sehingga kalimatnya menjadi: Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.

C.      Penalaran Kalimat

                Sesuai dengan kodratnya, manusia dibekali dengan hasrat ingin tahu. Hasrat ingin tahu dalam diri manusia akan selalu memunculkan berbagai macam pertanyaan. Sebagai akibatnya, manusia juga selalu berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan yang muncul tadi. Hasrat ingin tahu tersebut akan terpenuhi apabila manusia memperoleh pengetahuan baru atau mampu memecahkan masalah sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sendiri. Biasanya manusia selalu berpikir jika berhadapan dengan banyak permasalahan. Akan tetapi, tidak semua masalah membuat kita terdorong untuk memikirkannya secara sungguh-sungguh. Kegiatan berpikir tentang sesuatu secara sunguh-sungguh dan logis inilah yang disebut Penalaran. Metode penalaran:
1.      Deduktif

Metode berpikir deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Hal ini adalah suatu sistem penyusunan fakta yang telah diketahui sebelumnya guna mencapai suatu kesimpulan yang logis. Dalam penalaran deduktif, dilakukan melalui serangkaian pernyataan yang disebut silogisme dan terdiri atas beberapa unsur yaitu:
·         Dasar pemikiran utama (premis mayor)
·         Dasar pemikiran kedua (premis minor)
·         Kesimpulan
Jenis penalaran deduktif  yaitu:
a.       Silogisme Kategorial = Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
b.      Silogisme Hipotesis = Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis.
c.       Silogisme Akternatif = Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif.
d.      Entimen = Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Premis mayor : Semua siswa SMA kelas X wajib mengikuti pelajaran Sosiologi.
Premis minor  : Bob adalah siswa kelas X SMA
Kesimpulan    : Bob wajib mengikuti jam pelajaran Sosiologi



2.      Induktif

Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal yang bersifat khusus untuk menentukan kesimpulan yang bersifat umum. Dalam penalaran induktif ini, kesimpulan ditarik dari sekumpulan fakta peristiwa atau pernyataan yang bersifat umum. Contoh:
Bukti 1 : logam 1 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 2 : logam 2 apabila dipanaskan akan memuai
Bukti 3 : logam 3 apabila dipanaskan akan memuai
Kesimpulan: Semua logam apabila dipanaskan akan memuai.
Ciri-ciri Paragraf Induktif:
·         Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
·          Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
·         Kesimpulan terdapat di akhir paragraph.
·         Menemukan Kalimat Utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas
·          Kalimat utama paragraf induktif terletak di akhir paragraph
·         Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama
·         Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus
·         Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasa utama
Jenis Paragraf Induktif :
·         Generalisasi
·         Analogi
·         Klasifikasi
·         Perbandingan
·         Sebab akibat (terbagi menjadi tiga jenis)
-Sebab akibat
-Akibat sebab
-Sebab akibat 1 akibat 2

D.     Kehematan atau Ekonomis Bahasa

                Kehematan Kata, Yang dimaksud dengan unsur kehematan dalam kalimat efektif yaitu hemat menggunakan kata, frase, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak diartikan harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan disini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Ada beberapa kriteria unsur kehematan yang perlu diperhatikan, antara lain:
1.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.

2.       Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
3.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
4.      Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang bermakna ‘banyak’.
Contoh:
-          Karena ia tidak diundang, dia tidak datang.
            (kata Ia dibuang)
-          Kapal itu berlabuh hari Senin kemarin.
             (kata hari dibuang)
-          Sejak dari pagi mereka naik ke atas loteng.
             (kata dari dan atas dibuang)
-          Beberapa teman-temannya diundang dalam pesta ulang tahunnya.
             (kata beberapa dibuang).

E.      Daftar Konjungsi Bahasa

Dilihat dari fungsinya dapat dibedakan dua macam kata penghubung sebagai berikut:
1.       Kata penghubung yang menghubungkan kata, klausa, atau kalimat yang kedudukannya setara. Kata penghubung ini dibedakan lagi menjadi kata penghubung yang:
                (a) menggabungkan biasa, yaitu dan, dengan, serta.
                (b) menggabungkan memilih, yaitu atau.
                (c) menggabungkan mempertentangkan, yaitu tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya.
                (d) menggabungkan membetulkan, yaitu melainkan, hanya.
                (e) menggabungkan menegaskan, yaitu bahwa, malah, lagipuula, apalagi, jangankan.
                (f) menggabungkan membatasi, yaitu kecuali, hanya.
                (g) menggabungkan mengurutkan, yaitu lalu, kemudian, selanjutnya.
                (h) menggabungkan menyamakan, yaitu yaitu, yakni, adalah, bahwa, ialah.
                (i) menggabungkan menyimpulkan, yaitu jadi, karena itu, oleh sebab itu.
2.       Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang kedudukannya bertingkat. Kata penghubung ini dibedakan lagi menjadi kata penghubung yang menggabungkan:
(a) menyatakan sebab, yaitu sebab, karena.
(b) menyatakan syarat, yaitu kalau, jikalau, jika, bila, apabila, asal.
(c) menyatakan tujuan, yaitu agar, supaya.
(d) menyatakan waktu, yaitu ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.
(e) menyatakan akibat, yaitu sampai, hingga, sehingga.
(f) menyatakan sasaran, yaitu untuk, guna.
(g) menyatakan perbandingan, yaitu seperti, laksana, sebagai.
(h) menyatakan tempat, yaitu tempat.

Jika dilihat dari kedudukannya konjungsi dibagi dua, yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif.

1.       Konjungsi Koordinatif

                Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara (Abdul Chaer, 2008: 98). Contoh:
                dan penanda hubungan penambahan
serta penanda hubungan pendampingan
atau penanda hubungan pemilihan
tetapi penanda hubungan perlawanan
melainkan penanda hubungan perlawanan
padahal penanda hubungan pertentangan
sedangkan penanda hubungan pertentangan
Konjungsi koordinatif agak berbeda dengan konjungsi lain, karena selain menghubungkan klausa juga menghubungkan kata. Seperti contoh berikut:
(a) Dia menangis dan istrinya pun tersedu-sedu.
(b) Aku yang datang ke rumahmu atau kamu yang datang ke rumahku?
(c) Dia terus saja berbicara, tetapi istrinya hanya terdiam saja.
(d) Andi pura-pura tidak tahu, padahal tahu banyak.
(e) Ibu sedang mencuci baju, sedangkan Ayah membaca Koran.

2.       Konjungsi Subordinatif

                Konjungsi subordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat (kalusa) yang kedudukannya tidak sederajat (Abdul Chaer, 2008: 100). Konjungsi subordinatif dibagi menjadi tiga belas kelompok sebagai berikut:
-          Konjungsi suordinatif waktu: sejak, semenjak, sedari, sewaktu, tatkala, ketika, sementara, begitu, seraya, selagi, selama, serta, sambil, demi, setelah, sesudah, sebelum sehabis, selesai, seusai, hingga, sampai.
-          Konjungsi subordinatif syarat: jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila, manakala.
-          Konjungsi subordinatif pengandaian: andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya.
-          Konjungsi subordinatif tujuan: agar, supaya, biar.
-          Konjungsi subordinatif konsesif: biar(pun), walau(pun), sekalipun, sungguhpun, kendati(pun).
-          Konjungsi subordinatif pembandingan: seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana, ibarat, daripada, alih-alih.
-          Konjungsi subordinatif sebab: sebab, karena, oleh karena, oleh sebab.
-          Konjungsi subordinatif hasil: sehingga, sampai(sampai), maka(nya).
-          Konjungsi subordinatif alat: dengan, tanpa.
-          Konjungsi subordinatif cara: dengan, tanpa.
-          Konjungsi subordinatif komplementasi: bahwa
-          Konjungsi suboerdinatif atributif: yang
-          Konjungsi subordinatif perbandingan: sama …. dengan, lebih …. dari(pada).



F.      Daftar Proposisi Bahasa

                Proposisi adalah suatu pernyataan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti penuh dan utuh. Proposisi logika terdiri dari tiga bagian utama, yaitu subjek, predikat dan kopula.Kopula adalah kata yang menghubungkan subjek dan predikat. Kata-kata yang dapat digunakan sebagai kopula dalam bahasa Indonesia ialah adalah, ialah, itu, dan sebagainya.
Bentuk umum proposisi adalah Kuantor + Subjek + Kopula + Predikat.
Contoh :
                                Kalimat Biasa >>>            Semua manusia fana
                                                                Ternyata masih ada manusia biadab.

                Proposisi Logika >>>       Semua manusia adalah fana.
                                                                Sebagian manusia adalah biadab.
Proposisi disederhanakan menjadi empat jenis dengan lambang A, E, I, O.
A  = adalah proposisi universa afirmatif. Contohnya, “Semua filsuf adalah manusia” (Semua SUBJEK (S) adalah PREDIKAT (P) atau semua S = P).
E = adalah proposisi universal negatif. Contohnya, “Tak seorang pun filsuf adalah kera” (Semua SUBJEK (S) tidaklah PREDIKAT (P) atau semua S tidak sama dengan P)
I = adalah proposisi partikular afirmatif. Contohnya, “Sebagian manusia adalah filsuf” (Sebagian SUBJEK (S) adalah PREDIKAT (P) atau sebagian S = P)
O = adalah proposisi partikular negatif. Contohnya, “Sebagian manusia bukanlah filsuf” (Sebagian SUBJEK (S) bukan PREDIKAT (P) atau sebagian S tidak sama dengan P).

Oleh : Hanafi Indra
NPM : 13113867
Kelas : 3KA26

Sumber:
http://www.kelasindonesia.com/2015/02/pengertian-kalimat-efektif-adalah-beserta-contoh-lengkap.html
https://ramlannarie.wordpress.com/2010/10/02/kesalahan-dalam-penulisan-kalimat/
http://febrianiega.blogspot.co.id/2015/03/pengertian-penalaran-deduksi-dan-induksi_28.html
http://blog.stikom.edu/diah/
https://kelasmayaku.wordpress.com/2012/08/11/kata-penghubung-konjungsi/

https://gloriacharlotte.wordpress.com/2015/03/14/penalaran-proposisi-dan-silogisme-dalam-bahasa-indonesia/
Read More 0 komentar | Diposting oleh Unknown edit post

0 komentar



Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Beranda Sains

  • About
      About me. Edit this in the options panel.
  • Beranda Sains

    Barang siapa yang menghendaki dunia maka harus dengan ilmu, barang siapa yang menghendaki akhirat harus dengan ilmu, barang siapa yang menghendaki keduanya maka harus dengan ilmu

    Fajrul Islam Present

    Website Fajrul Islam UG
    Facebook Fajrul Islam UG
    Twitter Fajrul Islam UG

    About Me !

    Unknown
    Lihat profil lengkapku

    Total Tayangan Halaman

    Supported by

    Blog Archive

    • ► 2017 (4)
      • ► Juni (1)
      • ► Mei (1)
      • ► April (1)
      • ► Maret (1)
    • ► 2016 (2)
      • ► Juni (2)
    • ▼ 2015 (13)
      • ► Desember (2)
      • ▼ November (3)
        • 6. ALINEA ATAU PARAGRAF
        • 5. KALIMAT EFEKTIF
        • 4. DIKSI ATAU PILIHAN KATA
      • ► Oktober (4)
      • ► Juni (1)
      • ► April (1)
      • ► Maret (2)
    • ► 2014 (20)
      • ► Desember (6)
      • ► November (5)
      • ► Oktober (1)
      • ► Juni (3)
      • ► April (2)
      • ► Maret (2)
      • ► Januari (1)
    • ► 2013 (16)
      • ► Desember (2)
      • ► November (2)
      • ► Oktober (2)
      • ► September (10)

    Pengikut

    Diberdayakan oleh Blogger.
    • ETIKA DAN PROFESIONALISME DALAM TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI (TSI)
      Etika dan Profesionalisme dalam TSI dapat dijabarkan menjadi 3 dasar pengertian untuk memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai etika, ...
    • CARA MEMBUAT GARIS VERTIKAL, HORIZONTAL DAN VERTIKAL DENGAN MENGGUNAKAN OPEN GL PADA BAHASA JAVA
         Langkah untuk membuat Menu Membuat Garis pada Open GL dengan menggunakan bahasa pemrogramman java adalah: 1.      Buatlah statemen...
    • 6. ALINEA ATAU PARAGRAF
      Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Dalam upaya menghimpun beber...
    • 2. RAGAM BAHASA DAN LARAS BAHASA
                     RAGAM BAHASA DAN LARAS BAHASA A.     Ragam Bahasa Ragam bahasa adalah varian dari sebuah bahasa menurut pemakaian. ...
    • 8. Abstraksi dan Daftar Pustaka
      A.     Pengertian Abstraksi Abstraksi adalah bagian di awal paragraf yang berfungsi memberi gambaran tentang isi teks. Biasanya bagian ...
    • 3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan Tanda Baca
                             Ejaan Yang Disempurnakan dan Tanda Baca A.      Pengertian EYD EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata...
    • 1. PERAN DAN FUNGSI BAHASA
            PERAN DAN FUNGSI BAHASA A.     Pengertian Bahasa Bahasa berarti sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh semua or...
    • IT Forensik
      A.   Pengertian Dalam dunia penyidikan, forensik di gunakan untuk mengungkap skandal yang terjadi pada suatu kasus dimana dugaan-dugaan s...
    • MODUS-MODUS KEJAHATAN DALAM TEKNOLOGI INFORMASI
                  Perkembangan teknologi informasi-komputer saat ini sudah mencapai pada tahap di mana ukurannya semakin kecil, kecepatannya sema...
    • Peraturan dan Regulasi Etika dan Profesionalisme TSI
      UU ITE "Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah ketentuan yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan h...

    Terjemahan

  • Search






    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright Beranda Sains. All rights reserved.
    Designed by FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Smashing Magazine

    Back to Top