Desas
Desus Densus 88
Jika
mendengar selentingan kata “Densus 88” mungkin telinga kita sudah
tak asing lagi, pasalnya Densus 88 merupakan salah satu lembaga
kenegaraan yang berwenang untuk memerangi teroris di Indonesia.
Kinerjanya selama ini banyak menuaikan komentar positif dari
masyarakat yang merasa terlindungi oleh aksi kerja nyata mereka.
Pasukan bersenjata dan berpakaian pelindung lengkap ini merupakan
lembaga yang sudah berdiri sejak 24 Agustus 2004 silam yang berjumlah
400 personel hingga saat ini. Dan selama itu pula citra mereka banyak
dikenang positif oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.
Namun,
citra baik Densus 88 ternyata tidak sebaik perkiraan masyarakat
sebelumnya, sebab lembaga anti teror ini kerap kali melakukan aksi
salah tangkap yang berujung pada trauma masyarakat yang
berkepanjangan kepada lembaga anti teror ini.
Dapat
kita amati pada belakangan ini. Masyarakat Indonesia, khususnya warga
sekitar di salah satu desa provinsi D.I Yogyakarta, sangat dihebohkan
dengan ‘ulah’ Densus 88 yang justru dapat dikatakan membuat onar.
Bagaimana tidak? Aksi penangkapan mereka sudah tergolong agresif
sehingga tidak memperhatikan aspek lingkungan sekitar. Tak salah
lagi, sebab ketika salah seorang terduga tersangka teroris (sebut
saja alm. Siyono) dibekuk oleh Densus 88, almarhum sedang melakukan
dzikir setelah shalat di masjid dekat rumahnya. Namun, siapa sangka?
Belum lepas beliau berdzikir, sontak Densus 88 datang dengan
perlengkapan persenjataan lengkap yang ditodongkan kepada bapak alm.
Siyono ini, tanpa basa-basi maka lekaslah alm diseret ke mobil dinas
mereka (Densus 88). Hal inilah yang disebut sangat tidak
memperhatikan aspek lingkungan, sebab di lokasi kejadian, banyak
anak-anak usia kurang lebih 5 tahun yang melihat aksi penodongan
senjata dan pembekukan tersebut. Sehingga banyak dari mereka yang
mengaku ketakutan kepada kedua orangtuanya.
Siapa
sangka? Warga sekitar yang mengenal almarhum taat beribadah, santun
kepada warga sekitar, bakhan beliau mempunyai yayasan Taman
Kanak-kanak di dekat rumahnya, namun justru menjadi objek salah
tangkap oleh pihak anti teror negara ini.
Bahkan,
yang lebih membuat masyarakat merasa terpukul, alm. Siyono yang
dibekuk secara paksa tersebut dipulangkan kepada pihak keluarganya
dalam kondisi berbaring tak bernyawa. Melihat kejadian ini jelas
membuat keluarga menimbulkan tanda tanya besar. Apa yang justru
dilakukan oleh mereka kepada alm. Siyono? Kesalahan apa yang
dilakukan almarhum sehingga beliau bisa dipulangkan dalam keadaan tak
bernyawa?
Ketika
ditanya, pihak Densus 88 justru hanya menjawab bahwa alm. Siyono
terbentur kepalanya ketika memberontak petugas yang sedang
mengintrogasi. Entah darimana alasan ini dapat muncul sementara hasil
fisum RS. Muhammadiyah menyebutkan bahwa ada benturan benta tumpul di
bagian dada almarhum sehingga menyebabkan tulang rusuk dada beliau
patah dan mengenai organ dalamnya. Hanya Allah dan mereka (Densus 88)
yang tahu tentang perbuatan tersebut.
Maka,
kabar tersebut sangat cepat menyebar di media sosial, netizen banyak
yang menyampaikan berduka atas peristiwa pelanggaran HAM ini. Dan
sejak itulah lembaga yang katanya anti teror ini justru dipandang
buruk oleh masyarakat.

Posting Komentar