"Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang (manusia) sebagai
khalifah di muka bumi" (Al-Baqarah: 30). Berangkat dari firman
tersebut, sudah jelas bahwa manusia diamanahkan oleh Allah guna memimpin,
membangun, serta menghidupsuburkan bumi ini. Kita sebagai manusia yang
diamanahkan oleh-Nya sebagai pemimpin di muka bumi ini jangan hanya mampu
membangga-banggakan sejarah kejayaan kita dimasa silam, sebab hal itu hanya
akan menyita waktu kita untuk bernostalgia dengan masa lalu yang tiada dampak
positifnya bagi kita jika tidak didampingi dengan usaha dan semangat untuk
memperbaharuinya. Karena sesungguhnya adalah kita yang harus memperbaiki dan
menghidupsuburkan kehidupan di alam bumi ini sebagaimana yang diharapkan oleh-Nya.
Tetapi
betapa mengharukannya ketika umat manusia di muka bumi ini justru
menyelewengkan amanah yang diembankan kepada mereka. Padahal, seyogyanya setiap
manusia adalah pemimpin, yakni pemimpin bagi dirinya dan hawa nafsunya sendiri
agar condong kepada jalan yang lurus. Namun, terkadang manusia cenderung lebih
mengikuti hawa nafsunya yang condong kepada kerusakan. Coba kita lihat disekitar
kita! Termasuk para pemuka-pemuka di Negara kita. Masih banyak dari kalangan
mereka yang mengabaikan hak-hak yang seharusnya mereka lakukan sebagai
pemimpin. Tindak laku kedholiman dan ketidakadilan yang justru merajalela di
negri kita ini. Mereka yang seharusnya memperbaiki tapi malah merusak
keserasian dari hukum di Negara kita ini. Hanya pemimpin berkarakter qur’ani-lah
yang mampu mendobrak ketidakserasian itu dengan bimbingan dari kitab mustajab,
yakni Al-Qur’an. Karena tidak semua manusia di muka bumi memiliki jiwa
kepemimpinan yang baik, tapi sudah seharusnya setiap manusia dapat memimpin
dirinya sendiri agar menjadi manusia yang berkualitas baik dimata sesamanya
maupun dimata Allah.
Jiwa ‘pemimpin’ memang telah dianugrahkan oleh-Nya
kepada manusia sejak pertama kali lahir di alam dunia ini, tetapi tidak semua
manusia memiliki jiwa ‘memimpin’ suatu kaum dengan bijak dan bajik sesuai
dengan tuntunan hukumnya. Pemimpin suatu kaum akan memiliki dua tanggungjawab
sekaligus, yakni tanggungjawab untuk memimpin hawa nafsunya dari penyelewengan
haknya dalam memimpin dan tanggungjawab untuk memimpin kaumnya dari saling
berbuat kedholiman terhadap sesama. Tetapi kenyataannya banyak dari kalangan
pemimpin yang hanya mampu bergembor akan berlaku adil dan bijaksana ketika
diawal masa pemilihannya saja dengan cara berkampanye kesana-kemari. Dan ketika
terjun langsung ke dunia kepemimpinannya, justru mereka hanya mampu berpangku
tangan melihat betapa bobroknya Negara yang dipimpinnya itu tanpa ada rasa
ingin mengubah paradigma kepemimpinan di Negara tersebut. Maka, pemimpin yang
sebenarnya dibutuhkan itu bukan pemimpin yang kaya harta atau kaya akan janji,
tetapi pemimpin yang sesungguhnya dibutuhkan oleh umat adalah pemimpin yang
kaya akan jiwa sosial kemasyarakatannya dalam memimpin dan kaya akan do’a,
usaha, dan ikhtiar kepada sang Khalik agar dipermudahkan dalam masa kepemimpinannya.
Dan
sudah seharusnya bagi pemimpin di masa mendatang untuk memperbaiki moral dan
akhlak dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum memperbaiki suatu kaum yang akan
dia pimpin. Ya, termasuk bagi para pemuda-pemuda kita di zaman sekarang ini yang
terkenal dengan kebobrokan moral dan akhlaknya. Sebab semua berawal dari diri
kita masing-masing.
Memimpin
adalah kewajiban dari setiap kita sebagai khalifatullah
fil ardh yang telah diutus oleh Allah. Maka, mulai sekarang kita coba
perbaiki diri, hati dan kemudian bumi serta negri kita tercinta ini, jangan
sampai dugaan para malaikat benar, bahwa “Manusia hanya mampu membuat kerusakan
dan melakukan pertumpahan darah di atas muka bumi” seperti yang tertera pada
Qs. Al-Baqarah: 30. Mari kita buktikan bahwa kita mampu mengemban amanah Allah
yang telah dipercayakan kepada kita, karena sesungguhnya setiap dari kita
adalah pemimpin! Aku, kamu, dia serta mereka adalah pemimpin. Dan kita adalah
agen perubahan dimasa mendatang. Allahuakhbar!

Posting Komentar