Indonesia
merupaka Negara Adi daya yang dapat dikategorikan sebagai Negara yang mempunyai
kualitas kehidupan lebih mumpuni daripada Negara-negara lain. Mengapa demikian?
Karena, Indonesia merupakan Negara yang letak kepulauannya sangat strategis
bagi wilayah kelautan. Disamping itu, Indonesia juga mempunyai kekayaan alam
yang maha limpah ruah dibandingkan dengan Negara-negara lain. Walaupun
statusnya masih Negara berkembang, tetapi Indonesia merupakan penghasil
kekayaan alam terbanyak hampir di seluruh dunia. Bahkan, dunia pernah berkata
bahwa hutan-hutan yang ada di Indonesia merupakan jantung kehidupan bagi
seluruh masyarakat dunia.
Disisi lain, Indonesia mempunyai
keberagaman budaya yang masih bersifat oriental. Banyak dari kebudayaan di
Indonesia yang diakui dunia, seperti contohnya budaya Indonesia dalam tarian
tradisional, budaya Indonesia dalam seni termasuk seni membatik yang murni
hanya ada di Indonesia, dan masih banyak budaya-budaya Indonesia lainnya yang
tak harus disebutkan satu persatu. Maka dari keberagaman budaya itulah,
Indonesia bisa hidup rukun dan saling merghargai satu sama lain. Itu juga karena disanggah dengan pedoman
kehidupan bangsa Indonesia dalam bermasyarakat dan bernegara, yakni “Bhinneka
Tunggal Ika” yang mempunyai arti “Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu
tujuan” yaitu tujuan hidup bernegara dengan rukun, aman, tentram dan sejahtera.
Namun, Indonesia tampak berbeda
begitu terbawa oleh kikisan zaman yang semakin modern. Globalisasi dan
westernisasi melanda hampir mayoritas dari penduduk Indonesia. Saat ini mereka
jarang memperhatikan kebudayaan yang dahulu kakek-nenek mereka perjuangkan
keberagamannya. Masyarakat Indonesia saat ini cenderung lebih mementingkan diri
sendiri (individualism) daripada gotong royong, padahal pada masa Indonesia
sebelum terkikis oleh pesatnya perkembangan zaman masyarakatnya sangat
menggenggam kepedulian gotong royong terhadap sesama, dan itupun bisa disebut
dengan budaya bangsa Indonesia yang peduli terhadap sesama. Contoh kepedulian
sikap gotong royong ini masih bisa kita rasakan di daerah di pelosok-pelosok
desa di Indonesia.
Hutan-hutan yang seharusnya dirawat
oleh penghuninya, justru sekarang penghuninyalah yang merusak hutan itu
sendiri. Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri yang ingin berhasil
dengan membangun pengindustrian yang akan mereka buat tanpa memperhatikan
keseimbangan habitat alam di lingkungan sekitarnya. Bahkan justru banyak dari
mereka yang setelah berhasil membangun pengindustrian mereka, kemudian mereka
membuang limbah bekas industri mereka di sembarang tempat yang kemudian akan
meracuni lingkungan sekitar. Itukah yang disebut budaya bangsa Indonesia yang
senang merawat dan bersikap socialism (tidak mementingkan diri sendiri)?
Betapa miris melihat budaya
Indonesia yang dahulu dijunjung-junjung oleh bangsa, namun sekarang seakan
hanya menjadi pajangan dan hiasan dinding semata. Para pemuda Indonesia yang
seharusnya melestarikan kebudayaan itu kini pun telah hilang karena terbawa
arus globalisasi zaman pula. Dahulu, para pemuda yang gemar membantu orangtua
di lading, kini berubah menjadi ‘membantu’ orangtua untuk menghabiskan uang
dengan berfoya-foya tanpa memikirkan rasa sakit yang orangtua mereka rasakan.
Dahulu, pemuda Indonesia yang gemar melakuakan kesenian tradisional, kini telah
berubah menjadi kesenian modern yang mempunyai unsur kekerasan didalamnya.
Budaya Indonesia kini bukan lagi
ramah tamah seperti yang bangsa asing bilang. Budaya Indonesia kini tak lagi
beragam, tak lagi satu tujuan, tetapi Budaya Indonesia saat ini sudah
terkontaminasi dengan unsur-unsur perkembangan zaman didalamnya. Bahkan budaya
mementingkan rakyat di dalam ranah kepemerintahan pun kini telah berubah
menjadi budaya mementingkan diri sendiri dengan menyebarkan virus KKN (Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme) dalam ranah kepemerintahan mereka sendiri. Budaya oh
budaya, apakah engkau hanya berlaku dimasa silam? Hingga banyak manusia
menanggalkanmu sekarang? Tentu jawabannya ada pada diri kita sendiri, kita yang
harus memperbaiki diri untuk kedepannya bangsa. Tidak hanya dimulut, tapi
dihati dan perbuatan. Kita lestarikan budaya yang telah lama terkikis oleh
zaman agar terjaga keasrian budaya kita dan kelak anak cucu kita dapat
merasakan betapa manisnya budaya bangsa mereka dan agar bangsa lain melihat
lagi betapa masih terlestarikannya budaya Indonesia. Indonesia Satu!!
Sumber: Pemikiran dan Pengetahuan Penulis.
Oleh: Hanafi Indra Pribadi
Kelas: 1KA34
NPM: 13113867
Matakulaih Softskill Ilmu Budaya Dasar

Posting Komentar